Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

DEMI WAKTU, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal shaleh...

Pengendalian Konsumsi

Written By arumanis group on Senin, 17 Oktober 2011 | 02.12

Ilustrasi: Umahat sedang memilih barang belanjaan
Dari pengangguran tiba-tiba mendapatkan gaji yang lumayan bisa buat foya-foya. Sebaliknya dari yang berpenghasilan tiba-tiba kehilangan pekerjaan dan tentunya kehilangan gaji yang merupakan sumber pendapatan untuk belanja rumah tangga. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan konsumsi kita ?.
Ketika kita berbicara pendapatan (Y), maka tak akan lepas dari yang namanya konsumsi (C), dan tabungan (S) dimana tabungan juga bisa digunakan sebagai sarana untuk investasi (I). Secara umum, jika pendapatan naik maka ada pilihan antara menaikkan konsumsi atau menaikkan tabungan atau malah menaikkan keduanya. Sebagian besar orang, ketika pendapatan naik maka hal yang dilakukan adalah menaikkan konsumsi dengan cara membeli barang-barang elektronik, makanan, rekreasi, atau beli kendaraan. dan hanya sedikit yang disisakan untuk di tabung. Dari tabungan itu sendiri beberapa ada yang direalisasikan menjadi investasi sektor riil.
Bagaimana jika suatu ketika pendapatan kita turun atau justru hilang karena resign pekerjaan, dipecat atau yang lebih parah bangkrut usaha ?. apakah yang akan terjadi dengan konsumsi dan tabungan kita ?. apakah dengan menurunya pendapatan kita, terus kita akan menurunkan konsumsi kita ?.
Orang akan cenderung mudah menaikan konsumsi akan tetapi sangat sulit untuk menurunkan konsumsi. Ketika lidah ini sudah terbiasa makan dengan beras kualitas 1, duduk di dalam mobil dan ACnya sepoi-sepoi, menikmati siaran TV seperti melihat bioskop maka tidak serta merta mudah untuk kita mengganti dengan beras kualitas 2, mengganti mobil dengan motor, dan menggani TV dengan radio atau bahkan mengganti sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Itu jelas tidak mudah.
Pendapatan memang sangat mempengaruhi konsumsi dan tabungan. Dengan naik atau turunnya pendapatan, konsumsi maupun tabungan jelas akan terpengaruh. maka dari itu, kenaikan atau turunnya pendapatan tidak perlu direspon berlebihan terutama di sektor konsumsi. Stabilnya sektor konsumsi akan cenderung menstabilkan emosi dan selera orang.
Dengan naiknya pendapatan, maka prioritaskan untuk menaikkan tabungan dimana suatu saat bisa digunakan untuk investasi sektor riil atau untuk berjaga jika ada pengeluaran yang penting dan mendesak seperti sakit. Sedangkan dengan konsumsi silakan dinaikkan tetapi harus diingat bahwa menurunkan konsumsi itu jauh lebih sulit daripada menyisihkan pendapatan untuk ditabung. Naiknya konsumsi lebih baik sifatnya sementara dan tidak mempengaruhi pengeluaran tetap dalam rumah tangga karena jika suatu saat kita mengalami penurunan pendapatan, maka sektor konsumsi tidak akan terganggu.
Rosulullah telah mengajarkan pada kita untuk berpuasa baik sunnah maupun wajib, berzakat, bersedekah, dan hidup bersahaja tanpa menunjukkan kemewahan. Itulah hikmah dari konsumsi. karena konsumsi menciptakan selera dan kebiasaan yang sangat sulit untuk dirubah. Sedangkan ketika kita mengeluarkan untuk bersedekah, berzakat dan yang sifatnya sosial maka itu akan menjadi penolong kita kelak di kemudian hari. Itu bukan termasuk konsumsi yang dimaksud.
Ketika kehilangan pendapatan, tabungan bisa digunakan sebagai penjamin konsumsi yang sifatnya sementara. Kalau konsumsi kita sudah terkondisikan dengan baik, maka tidak akan bermasalah dengan pengendalian konsumsi, tidak perlu menurunkan selera, tidak perlu melakukan penjualan barang dan tidak perlu emosi dalam kehidupan rumah tangga.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar