Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

DEMI WAKTU, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal shaleh...

Tampilkan postingan dengan label Bisnis dan Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis dan Keuangan. Tampilkan semua postingan

Manajemen Keuangan Bagi Yang Berpenghasilan Tidak Tetap

Written By arumanis group on Senin, 20 Februari 2012 | 19.48


Untuk mereka yang berpenghasilan tetap, boleh dibilang lebih mudah untuk mengatur pengeluaran. Namun, bagaimana dengan mereka yang punya penghasilan tidak tetap seperti yang berprofesi seniman, freelance, atau artis?

Menurut Ahmad Gozali, seorang perencana keuangan, untuk mereka yang memiliki penghasilan tidak tetap, jangan biarkan pengeluaran mengikut penghasilan Anda. Karena ketika penghasilan kita naik, akan sangat mudah sekali ikut menaikkan juga pengeluaran. Tapi, ketika pengeluaran turun, maka akan sangat sulit mengajak pengeluaran kita untuk turun kembali. Dan, pengeluaran yang bisa dengan mudah diajak naik itu tidak lain adalah pengeluaran yang sifatnya tidak tetap.

Setelah itu, lanjut Gozali, coba lihat kembali daftar pengeluaran yang jumlahnya tidak tetap. Misalnya makanan (tergantung selera), transportasi (tergantung moda transportasi yang digunakan), hiburan, pakaian, dan lain-lain ini berkaitan langsung dengan  gaya hidup. Apa yang kita makan dan di mana kita makan adalah gaya hidup, moda transportasi yang kita pilih juga gaya hidup, begitu juga dengan pakaian dan hiburan, jelas bagian dari gaya hidup.

Biasanya kalau sudah menyangkut gaya hidup, lebih sulit untuk diajak kompromi karena sudah melibatkan banyak faktor emosi dan terutama gengsi. Iya, kan? Oleh karena itu, sebisa mungkin, buat penghasilan kita menjadi 'pasti'. Bagaimana caranya?

Gaji diri Anda sendiri
Kalau penghasilan kita betul-betul sifatnya tidak pasti, dalam arti rentang penghasilannya bisa sangat jauh berbeda dari bulan ke bulan, cara yang terbaik adalah dengan menggaji diri sendiri. Berapa pun penghasilan yang kita terima, masukkan ke dalam rekening penampungan, dan dari situ kita ambil jumlah yang tetap setiap bulannya.

Artinya kita menggaji diri kita sendiri dengan jumlah yang pasti setiap bulan dari tabungan kita sendiri. Hal ini dilakukan agar kita tidak usah terpengaruh dengan besar-kecilnya penghasilan yang diterima di bulan yang bersangkutan. Hidup tetap nyaman, tidak mudah stres ketika penghasilan kecil, dan tidak terdorong untuk boros ketika penghasilan besar. Cara seperti ini cocok untuk mereka yang berprofesi sebagai konsultan (seperti saya), dokter, pengacara, pengusaha. Kalau pengeluarannya sudah dibuat pasti, rumus Cashflow for Muslim bisa langsung diterapkan.

Kombinasikan pengeluaran sesuai penghasilan
Kalau penghasilan yang diterima merupakan kombinasi dari penghasilan pasti dan penghasilan tidak pasti, ada baiknya kita gunakan rumus sederhana 'pengeluaran pasti dari penghasilan pasti, pengeluaran tidak pasti dari penghasilan tidak pasti'. Misalnya begini, seorang tenaga marketing punya gaji plus komisi penjualan yang variatif, suami bekerja dan istri pengusaha (atau sebaliknya), karyawan dengan segudang sampingan. Untuk membiayai pengeluaran yang rutin dan pasti, andalkan hanya dari penghasilan yang pasti saja yaitu gaji.

Andalkan pemasukan tambahan
Sedangkan pengeluaran yang tidak rutin, dan jelas tidak pasti, silakan mengandalkan pemasukan tambahan yang sifatnya juga tidak pasti. Misalnya, pakaian kan tidak rutin, bolehlah beli hanya kalau dapat bonus saja. Makan biasa di rumah dari uang gaji, boleh makan-makan di luar hanya kalau dapat komisi besar. Dalam kondisi tertentu, mereka yang punya sifat penghasilan seperti ini sebaiknya tidak berutang sama sekali untuk beli kendaraan atau elektronik. Karena kadang punya daya beli yang luar biasa besar di saat-saat tertentu.
Misalnya, biaya rutin dari gaji... tapi begitu proyek sampingan berhasil, bisa untuk langsung beli sepeda motor (tanpa mencicil), beli alat elektronik, bahkan mungkin beli rumah juga bisa.

*copy dari Republika.co.id
19.48 | 0 komentar

Pengendalian Konsumsi

Written By arumanis group on Senin, 17 Oktober 2011 | 02.12

Ilustrasi: Umahat sedang memilih barang belanjaan
Dari pengangguran tiba-tiba mendapatkan gaji yang lumayan bisa buat foya-foya. Sebaliknya dari yang berpenghasilan tiba-tiba kehilangan pekerjaan dan tentunya kehilangan gaji yang merupakan sumber pendapatan untuk belanja rumah tangga. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan konsumsi kita ?.
Ketika kita berbicara pendapatan (Y), maka tak akan lepas dari yang namanya konsumsi (C), dan tabungan (S) dimana tabungan juga bisa digunakan sebagai sarana untuk investasi (I). Secara umum, jika pendapatan naik maka ada pilihan antara menaikkan konsumsi atau menaikkan tabungan atau malah menaikkan keduanya. Sebagian besar orang, ketika pendapatan naik maka hal yang dilakukan adalah menaikkan konsumsi dengan cara membeli barang-barang elektronik, makanan, rekreasi, atau beli kendaraan. dan hanya sedikit yang disisakan untuk di tabung. Dari tabungan itu sendiri beberapa ada yang direalisasikan menjadi investasi sektor riil.
Bagaimana jika suatu ketika pendapatan kita turun atau justru hilang karena resign pekerjaan, dipecat atau yang lebih parah bangkrut usaha ?. apakah yang akan terjadi dengan konsumsi dan tabungan kita ?. apakah dengan menurunya pendapatan kita, terus kita akan menurunkan konsumsi kita ?.
Orang akan cenderung mudah menaikan konsumsi akan tetapi sangat sulit untuk menurunkan konsumsi. Ketika lidah ini sudah terbiasa makan dengan beras kualitas 1, duduk di dalam mobil dan ACnya sepoi-sepoi, menikmati siaran TV seperti melihat bioskop maka tidak serta merta mudah untuk kita mengganti dengan beras kualitas 2, mengganti mobil dengan motor, dan menggani TV dengan radio atau bahkan mengganti sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Itu jelas tidak mudah.
Pendapatan memang sangat mempengaruhi konsumsi dan tabungan. Dengan naik atau turunnya pendapatan, konsumsi maupun tabungan jelas akan terpengaruh. maka dari itu, kenaikan atau turunnya pendapatan tidak perlu direspon berlebihan terutama di sektor konsumsi. Stabilnya sektor konsumsi akan cenderung menstabilkan emosi dan selera orang.
Dengan naiknya pendapatan, maka prioritaskan untuk menaikkan tabungan dimana suatu saat bisa digunakan untuk investasi sektor riil atau untuk berjaga jika ada pengeluaran yang penting dan mendesak seperti sakit. Sedangkan dengan konsumsi silakan dinaikkan tetapi harus diingat bahwa menurunkan konsumsi itu jauh lebih sulit daripada menyisihkan pendapatan untuk ditabung. Naiknya konsumsi lebih baik sifatnya sementara dan tidak mempengaruhi pengeluaran tetap dalam rumah tangga karena jika suatu saat kita mengalami penurunan pendapatan, maka sektor konsumsi tidak akan terganggu.
Rosulullah telah mengajarkan pada kita untuk berpuasa baik sunnah maupun wajib, berzakat, bersedekah, dan hidup bersahaja tanpa menunjukkan kemewahan. Itulah hikmah dari konsumsi. karena konsumsi menciptakan selera dan kebiasaan yang sangat sulit untuk dirubah. Sedangkan ketika kita mengeluarkan untuk bersedekah, berzakat dan yang sifatnya sosial maka itu akan menjadi penolong kita kelak di kemudian hari. Itu bukan termasuk konsumsi yang dimaksud.
Ketika kehilangan pendapatan, tabungan bisa digunakan sebagai penjamin konsumsi yang sifatnya sementara. Kalau konsumsi kita sudah terkondisikan dengan baik, maka tidak akan bermasalah dengan pengendalian konsumsi, tidak perlu menurunkan selera, tidak perlu melakukan penjualan barang dan tidak perlu emosi dalam kehidupan rumah tangga.


02.12 | 0 komentar

Mr and Mrs admin

Mr and Mrs admin

Menu Utama

Entri Populer